Go to Top

PERTEMUAN HIMPUNAN AHLI TEKNIK HIDRAULIK INDONESIA (HATTI) SULAWESI TENGAH

Kamis, 01 November 2018, Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air  bersama dengan HATTI cabang Sulawesi Tengah melaksanakan pertemuan berbagai sudut pandang menyikapi Gempa Bumi, Likuifaksi, dan Tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Donggala.

Pertemuan yang berlangsung selama sehari di buka langsung oleh Bapak Gubernur Sulawesi Tengah yang dalam sambutannya memberikan apresiasi yang besar terhadap Kepala Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air, Ir. Saliman Simanjuntak, Dilp.HE yang telah melaksanakan Kegiatan Pertemuan berbagai sudut pandang menyikapi Gempa Bumi, Likuifaksi dan Tsunami yang terjadi di Kota Palu, Sigi dan Donggala. Gubernur Sulawesi Tengah dalam sambutannya juga, mengingatkan kita agar tidak berlarut-larut dalam duka, kita harus bangkit, Palu bangkit dan Sulteng Bangkit.

Pembicara dalam pertemuan tersebut adalah DR. Sukiman (Dosen Teknik Sipil UNTAD) dan Ir. Saliman Simanjuntak, Dilp.HE (Kadis Cikasda Sulteng), Pertemuan tersebut di hadiri oleh utusan dari masing-masing Bidang dan Satker di Lingkungan Dinas Cipta Karya dan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah serta anggota HATTI.

Dalam hipotesa Kadis Cipta Karya dan Sumber Daya Air Provinsi Sulawesi Tengah Ir. Saliman Simanjuntak, Dilp.HE menyebutkan bahwa “inilah kondisi di Balaroa setelah satu bulan pasca gempa dan likuifaksi. Terlihat sekarang terdapat aliran air dimana-mana di lokasi terjadinya bencana lumpur yang naik ke permukaan itu. Ini sebagai bukti bahwa saat tanah terdorong ke atas maka sumber tenaga pendorongnya adalah dari air tanah tertekan yang mengalir di bawah Kota Palu. Aliran ini bias ada karena adanya danau lindu di bagian bukit/gunung dan adanya dua lapisan cadas (lapisan impermeable) yang menjepit sebagai tempat jalannya air meluncur (Aquifer tertekan). Walaupun likuifaksi telah berakhir tapi bagian aquifer yang pecah tidak bisa tertutup dan air mengalir terus keluar pecahan. Nah,,,,untuk masa yang akan datang perlu dipikirkan untuk memberi jalan air ini sampai lancer ke laut agar mengurangi tekanan aquifer bagian hilir atau memfasilitasi tampungan air berupa kolam penampungan yang selanjutnya dapat dimanfaatkan  jadi sumber air bersih”.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *